Selasa, 16 Oktober 2018

Kampus Harus Desain Kurikulum Berorientasi Kewirausahaan

Kampus Harus Desain Kurikulum Berorientasi Kewirausahaan

  Forum Rektor Indonesia (FRI) menyatakan, kewirausahaan atau entrepreneurship masih menjadi komponen yang lemah dalam sistem pendidikan di Indonesia. Padahal sebuah negara memerlukan setidaknya 2 persen wirausahawan yang bisa membuka lapangan kerja.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan FRI Prof Asep Saifuddin mengatakan, untuk meningkatkan jumlah entrepreneur itu perguruan tinggi harus mempunyai kurikulum yang juga fokus menghasilkan entrepreneur muda.
"Perguruan tinggi harus bisa mendesain kurikulum yang berorientasi kewirausahaan," jelas Asep yang juga menjabat sebagai rektor Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) saat dihubungi Republika, Selasa (9/10).
Asep menyampaikan, untuk di UAI sendiri ada berbagai pendekatan yang dilakukan untuk mengasah bakat kewirausahaan mahasiswa. Umpamanya dengan menyelenggarakan mata kuliah tentang Kewirausahaan dan Kepemimpinan di level Universitas sebesar tiga SKS, level Fakultas 3 sampai 6 SKS dan di level Prodi 6 sampai dengan 8 SKS.
Selain itu, UAI juga mempunyai program KKN tematik yang mencakup kewirausahaan dan kemimpinan. Lalu melakukan studium generale setidaknya 4 kali per tahun yang wajib dihadiri mahasiswa serta menggalang pembentukan perusahaan rintisan berbasis teknologi.
"UAI juga melibatkan mahasiswa dalam melakukan pembinaan pengusaha kecil dan menengah di sekitar kampus atau kegiatan-kegiatan besar tingkat nasional dan internasional," kata Asep.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak lembaga pendidikan tinggi di Indonesia turut berperan mengembangkan sekaligus melahirkan para wirausaha yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Jokowi menyampaikan Indonesia memerlukan lebih banyak wirausaha untuk dapat bersaing dengan negara lainnya. Ia menyebut bahwa saat ini, semangat kewirausahaan bangsa masih berada pada tahap yang rendah.
"Dalam Global Entrepreneurship Index tahun 2017, peringkat kewirausahaan kita masih di ranking 90 dari 137 negara. Di tingkat Asia Pasifik, peringkat kita ke-16 dari 24 negara. Jumlah inovasi dan paten kita juga masih rendah, yaitu peringkat 87 dari 137 negara. Artinya masih banyak pekerjaan besar yang harus kita selesaikan," kata Jokowi saat memberikan orasi ilmiah dalam rangka Dies Natalis ke-66 Universitas Sumatera Utara (USU) di Auditorium Kampus USU, kemarin.

Produk Budidaya

Budidaya Lele, Potensi Primadona Ekspor Indonesia Selanjutnya

Indonesia harus bisa memanfaatkan tren permintaan ikan konsumsi yang terus naik di pasar dunia sebagai peluang bisnis untuk sektor perikanan dan kelautan. Selain dari sektor perikanan tangkap, Indonesia harus memaksimalkan perikanan budidaya sebagai peluang tersebut. Terlebih, dari sektor tersebut, saat ini sedang digenjot produksi lele dengan prinsip berkelanjutan.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto mengatakan, lembaga pangan dunia (FAO) mencatat produksi ikan global terus meningkat dari waktu ke waktu, bahkan pertumbuhan kebutuhan ikan global justru terus tumbuh hingga melebihi populasi penduduk di dunia.

Bagi Slamet, fakta di atas menjadi peluang emas bagi sektor perikanan budidaya nasional untuk mendorong peningkatan produksi lele secara nasional. Karena diprediksi kebutuhan ikan global pada masa mendatang tidak lagi bisa bergantung pada produksi perikanan tangkap.
“Diprediksi, nantinya akan sangat bergantung pada (perikanan) budidaya. Ini peluang bagi pelaku usaha lele untuk menyuplai kebutuhannya termasuk untuk kepentingan ekspor, yang saat ini mulai terbuka lebar, utamanya ke Uni Eropa dan Timur Tengah,” jelasnya pekan lalu di Jakarta.
Mengingat besarnya peluang tersebut, Slamet mendorong strategi pengembangan industri budidaya lele berkelanjutan. Tujuannya sudah jelas, yakni untuk menggenjot produksi lele secara nasional dan memenuhi kebutuhan konsumsi ikan lele dan juga untuk memasok permintaan lele dari mancanegara. Menurut dia, itu akan menjadi peluang ekspor yang sangat bagus bagi budidaya lele di Indonesia.
Agar produksi lele nasional bisa digenjot, Slamet menyebutkan tiga strategi utama yang harus dijalankan oleh para pembudidaya lele di Indonesia. Ketiga strategi tersebut, tak hanya bagus untuk peningkatan produksi lele, namun juga bisa mengembangkan industri lele dengan mengutamakan prinsip berkelanjutan.
Strategi pertama, adalah mengembangkan skala usaha budidaya menjadi sebuah industri yang berbasis teknologi berkelanjutan. Strategi tersebut, harus didorong secara holistik melalui pengembangan industri perbenihan, sistem produksi pembesaran, pengembangan input produksi lebih efisien, pakan mandiri, dan industri pengolahan ikan.
“Untuk mendorong industrialisasi berbasis teknologi berkelanjutan, saat ini sudah bisa dilakukan. Apalagi, inovasi teknologi budidaya juga telah berkembang sangat progresif,” jelasnya.

Produk Pengolahan

Jumlah Industri Pengolahan Hasil Hutan Ramah Lingkungan Meningkat

Bisnis.com, BEKASI – Forest Stewardship Council (FSC) Indonesia mencatat jumlah industri bersertifikasi ramah dalam pengolahan hasil hutan terus meningkat. Sertifikasi tersebut menunjukkan pertanggungjawaban industri serta agar hasil hutan dapat diterima di pasar mancanegara.
FSC sebagai lembaga non profit pengembang standardisasi pengolahan hasil hutan mencatat jumlah industri berstandar FSC terus meningkat tiap tahun. Sejak FSC Indonesia terbentuk pada 2013, jumlah industri berstandar hampir mencapai dua kali lipat sejak tahun pertamanya, baik industri dalam sertifikasi forest management (FM) maupun sertifikasi chain of custody (COC).
FSC mencatat, pada 2013 jumlah hutan yang dikelola industri berstandar FM sekitar 1,6 juta hektar. Jumlah tersebut terus meningkat hingga kini berjumlah 3,2 juta hektar. Sertifikasi FM sendiri menunjukkan bahwa industri tersebut melakukan proses pengambilan hasil hutan dan pengolahan yang minim dampaknya terhadap lingkungan.
Jumlah industri berstandar COC pada 2013 hanya 175, sementara kini jumlahnya telah mencapai 278. Sertifikasi COC disebut juga sertifikasi lacak balak menunjukkan hasil hutan diangkut ke pabrik dan diproduksi hingga selesai dengan dampak yang minim untuk lingkungan.
Meningkatnya tren sertifikasi tersebut dinilai Indra Setia Dewi, Marketing & Communication Manager FSC Indonesia, sebagai bentuk kesadaran industri akan citra yang baik di mata masyarakat. Industri bersertifikasi dapat menunjukkan pertanggungjawabannya dalam proses produksi yang menekan dampak pada lingkungan.
"Bisnis saat ini ingin mempunyai imej yang positif. Jadi harus benar-benar harus dibuktikan dengan menggunakan bahan baku yang berasal dari hutan yang berkelanjutan. Sehingga tren bisnisnya menuju ke sustainable," tutur Indra kepada Bisnis setelah kunjungan media ke pabrik Faber Castell di Bekasi pada Senin (15/10).
Indra pun menambahkan bahwa sertifikasi tersebut dapat menjadi peluang untuk produk hasil hutan diekspor ke mancanegara. Negara-negara di Eropa dan Asia, tutur Indra, menginginkan produk yang terstandar oleh lembaga standar kredibel.
Dalam catatan World Bank (2015) luas hutan Indonesia mencapai 91 juta hektar, dengan 63,4% hutan produksi. Jumlah tersebut dinilai FSC sebagai potensi besar untuk diolah dengan pengolahan yang berdampak sangat minim bagi lingkungan.

Produk Rekayasa

Kompor Rekayasa Jadikan IKM Tenggiri Juara Satu



BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Kebahagiaan diungkapkan Ratnasari Prihatini. Ketua Gugus Kendali Mutu (GKM) Tanahbumbu ini mengaku tak menyangka akan menyabet juara utama dalam ajang KonvensiGKM IKM Provinsi Kalsel Kamis kemarin (04/10/2018) di Banjarbaru.
"Sesuai dengan nama kami, GKM Tenggiri, TE artinya team work, NG artinya never give up, GI artinya global industries,RI artinya responsive dan innovatif, Alhamdulillah kami menang," jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat (05/10/2018).
Ratna mengaku bangga bisa mengharumkan nama Tanahbumbu dalam ajang provinsi. Dalam konvensi jelas Ratna timnya menfokuskan pada keunggulan alat kompor rekayasa yang telah terjadi perbaikan dari sisi keamanan operator, lebih ramah lingkungan, efisiensi waktu dan bahan bakar, serta yang paling utama adalah dapat mereduksi produk cacat amplang hasil penggorengan.

Kompor rekayasa ini terangnya hasil temuan seluruh anggota gugus, mereka melakukan inovasi dengan sistim pengadukan otomotis yang digerakkan oleh dinamo motor, sehingga mengurangi kelelahan operator saat menggoreng.
Kemudian bahan bakar yang awalnya digunakan adalah arang kayu diganti menjadi LPG. Penggunaan LPG selain ramah lingkungan, juga membuat pengapian kompor menjadi stabil dan lebih aman jika dibandingkan bahan bakar arang yang pengapiannya tidak stabil dan berbahaya.
"Percikan api yang terbang cukup membahayakan operator," ujarnya
Selain itu dengan stabilnya pengapian, membuat waktu proses penggorengan menjadi lebih cepat dan efisien dari sisi waktu dan bahan bakar.
"Sengaja kami buat inovasi ini demi memudahkan dalam produksi, dan Alhamdulillah atas prestasi ini, kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT, dan tak lupa pula ucapan terima kasih kepada Bupati Tanah Bumbu, Kepala Disdagri Tanah Bumbu, ketua Riset Teknologi kompor rekayasa kami, H Rusli Habibi, fasilitator dan semua pihak yang telah membantu pengendalian mutu pada perusahaan kami," tambah salah satu anggota GKM Tenggiri yang membuat amplang dari Ikan Tenggiri, Selly Oktavia.
Sementara Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalsel, H Mahyuni saat ditemui mengatakan konvensi GKM ini adalah salah satu ajang untuk menjadikan industri naik level, dari kecil menjadi menengah, hingga menjadi industri besar nantinya.
Konvensi Gugus Kendali Mutu sendiri merupakan ajang bagi pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) dalam rangka menjalin komunikasi antara stakeholder diantaranya aparat pembina di daerah, masyarakat dan pelaku IKM baik itu pengusaha maupun karyawan dalam pengendalian mutu produk


Produk Kerajinan

Berburu Produk Kerajinan Nusantara di Pameran Crafina 2018

Dalam pameran yang telah dihelat ke-11 kalinya ini, pengunjung akan dimanjakan dengan produk kerajinan unggulan yang dihasilkan oleh para produsen dan pengrajin dari seluruh Indonesia.
Thamrin Bustami, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat ASEPHI (Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia) dalam sambutannya mengatakan, pameran yang diinisiasi bersama Mediatama Binakreasi ini akan memanjakan para stakeholder industri kerajinan Indonesia dengan deretan produk-produk unggulan sebagai trendsetter kerajinan nusantara.
"Dengan tema 'From Natural Resources to Creative Product for Lifestyle', pameran ini akan menampilkan berbagai produk kerajinan terbaik persembahan anak negeri, di antaranya produk fashion unggulan meliputi batik, tenun, songket, serta produk kerajinan tangan lainnya seperti aksesoris, perhiasan, perlengkapan dekorasi ruangan dan lainnya," ujar Thamrin dalam pembukaan Crafina 2018 di JCC Senayan, Rabu (10/10/2018).
Ia menambahkan, pemanfaatan dan penggunaan produk kerajinan saat ini sudah menjadi tren lifestyle negara-negara berkembang di dunia, tak terkecuali di Indonesia. Untuk tahun ini, Crafina menggandeng lebih dari 400 perusahaan kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia.
"Dengan jumlah peserta tersebut menunjukan bahwa UKM kerajinan Indonesia telah mampu berkembang dan mandiri serta mampu bersaing dengan negara-negara lain. Selama pameran ini ditargetkan transaksi ritel dan kontak dagang Crafina tahun ini mencapai Rp 20 miliar, dan jumlah pengunjung mencapai 40.000 orang," tambah dia.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Dekranas, Mufidah Jusuf Kalla mengapresiasi upaya ASEPHI yang terus konsisten membangun kerajinan nusantara. Menurut Mufidah, industri kerajinan merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang cepat berkembang dan cukup strategis karena sangat dekat dengan keseharian rakyat Indonesia.
Pameran Crafina 2018 cocok untuk berburu kerajinan nusantara. (Suara.com/Firsta Nodia)
Pameran Crafina 2018 cocok untuk berburu kerajinan nusantara. (Suara.com/Firsta Nodia)
"Usaha kreatif ini bisa menjadi andalan penghasilan masyarakat dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Kewajiban kita-lah untuk menjaga dan memperkaya keberagaman kerajinan di negara kita," tambah Mufidah.

CARA MEMBUAT SEPATU ALA HOMEINDUSTRI

Cara Membuat Sepatu Bagi Pemula Sepatu merupakan alas kaki sekaligus salah satu barang fashion untuk seseorang, sepatu merupakan barang yang...